Cerbung: Lelaki Idaman (Bag 18)
5 bulan kemudian.
Hari ini, Airin dan Aldian pergi kerumah sakit untuk memeriksa kandungan Airin yang beranjak 3 bulan. Sungguh anugrah terbesar bagi mereka, bisa menyambut kedatangan seorang bayi dalam kehidupannya. Semenjak Airin hamil, Aldian sangat kawatir dan meminta istrinya jangan terlalu mengerjakan ini dan itu. Namun, sudah pasti Airin menolak. Ia tidak ingin menghilangkan kewajiban nya sebagai istri untuk suaminya. Menurutnya, Aldian terlalu berlebihan, sampai-sampai membersihkan rumah pun tidak diberikan.
Tapi semua yang Aldian lakukan adalah untuk kebaikan Airin.
Sepulang dari rumah sakit, Airin dan Aldian mampir ke Alfamart untuk membeli ice cream.
"Hati-hati sayang," ujar Aldian saat Airin turun dari mobil.
"Abang ikut nggak?" tanya Airin.
"Ikutlah sayang, masa Abang biarin kamu sendirian, nggak bisa lah," ujarnya penuh perhatian. Aldian pun turun mendekati Airin.
Airin tersenyum bahagia, ia menggandeng tangan suaminya. Mereka pun masuk ke dalam.
Airin sedang asik memilih berbagai macam ice cream.
"Ambil 2 saja ya, nggak boleh banyak-banyak, kamu ingat kan apa kata dokter?" pinta Aldian.
Airin cemberut, "Yah, sekali-kali nggak papa kan? Ambil 5 ya bang ... please," ucap nya dengan mata berbinar.
Aldian tak tega padanya, akhirnya iya mengiyakan.
"Tapi kali ini aja ya," pinta Aldian.
"Iya makasih, muach," ujarnya mencium punggung tangan suaminya.
Setelah selesai mereka pun pulang, hari sudah semakin siang.
Setiba dirumah, Aldian sangat kelaparan. Namun sayang, tidak ada makanan dirumah, dan Airin kepalanya mulai pusing saat itu.
"Kamu istirahat dikamar aja ya, atau ... kita balik kerumah sakit lagi?"
"Nggak usah Bang, kan sakit kepala biasa," ucapnya.
Aldian pun mengangguk.
"Eh tapi, Abang kan mau makan, ya sudah biar Airin masakin dulu," ucap Airin pergi ke dapur namun badannya sempoyongan, Aldian segera menangkap nya.
"Kan sayang. Sudah, biar aku saja yang masak," ujar Aldian cemas.
"Tapikan Abang nggak bisa masak," gumam Airin.
"Iya juga ya," batinnya.
"Enggak, Abang bisa kok," ucap Aldian, agar Airin mau mendengarkan nya.
"Hm, baiklah," gumamnya.
Aldian pun menggendong istrinya ke kamar. Setelah itu, ia bergegas ke dapur.
"Aku masak apa ya? Hm, telur dadar saja lah," batinnya.
Aldian pun mulai menyiapkan bahannya, ia melihat di google bagaimana cara membuat telur tersebut. Setelah selesai menyiapkan bahan, Aldian lalu mencampurkan semuanya menjadi satu. Namun, tanpa dia tau, dia tidak mencampur kan bumbu sama sekali. Wajar, Aldian tidak pernah memasak sekalipun, ini adalah first time baginya.
Beberapa menit berlalu. Telurnya pun siap dihidangkan.
"Mudah juga," fikirnya tersenyum.
"Airin pasti suka," batinnya penuh percaya diri. Ia bergegas kekamar, membawa sepiring nasi dan telur. Ia pikir, makan sepiring berdua lebih romantis.
"Sayang," ujar Aldian senang.
Airin tersenyum, "Masya Allah, ternyata Abang bisa masak juga ya. Ini pasti enak, aromanya harum, dan dilihat dari bentuknya sangat menarik."
"Mari makan, tapi sayang dulu ya yang cobain," ujar Aldian.
Airin mengangguk dan mulai memakan 1 suap.
"Kok hambar? Pasti nggak dikasi garam," batin Airin ingin tertawa. Namun, Airin tindak ingin jujur kepada suaminya, ia tidak ingin membuat Aldian kecewa, terlihat diwajahnya, ia sangat bahagia.
"Gimana sayang, enak nggak? Ini pertama kali aku masak," ujar Aldian.
"Enak, dan aku suka. Sepertinya, Abang nggak bisa makan ini deh, dede nya mau makan sendiri," bohong Airin supaya Aldian tidak memakannya.
Aldian mengelus perut Airin, "Yah, anak Abi nggak mau berbagi ya? Padahal Abi lapar loh, tapi nggak papa lah demi kamu ya sayang, muach," ucap nya sembari mencium perut Airin.
Airin mengelus lembut kepala suaminya, "Sabar ya Abi hihi."
Airin kembali melanjutkan makannya. Biar hambar, namun terasa nikmat setelah melihat wajah suaminya. Baru setengah nasi yang habis, tiba-tiba Airin tersedak, Aldian segera memberikan minum untuknya. Dan menjadi kesempatan bagi Aldian untuk mencicipi masakannya.
Airin ingin menghentikan, namun ia sedang minum, sulit baginya untuk berbicara.
"Kok tawar?" tanya Aldian yang sudah memakannya.
Airin tersenyum, "Nggak tawar, enak kok Bang."
"Enak dari mana nya sayang, ini jelas-jelas hambar, sudah jangan dimakan lagi ya," ujar Aldian mengambil piring dari Airin.
"Tapi aku suka, dan aku mau habisin," paksanya.
"Sayang, kamu lakuin ini semua demi aku kan? Jadi tolong jangan dimakan lagi ya, kita bikin yang baru, nanti kamu kenapa- Napa," pintanya.
Airin tertawa, "Makanan ini kan cuma tawar bang, bukannya ada racun atau apa, masa bisa bikin kenapa-napa."
"Biarin, pokok nya jangan dimakan lagi," paksanya, Airin pun mengiyakan, ia tidak ingin membantah perkataan suaminya.
"Ya sudah, kamu istirahat ya," suruh Aldian.
Airin mengangguk, ia pun istirahat.
Malam ini, setelah shalat isya, Airin duduk ditepi jendela. Ia mengelus-ngelus perutnya, tanpa ia sadari, Aldian sudah berada dibelakang nya sepulang dari masjid.
"Nak, kamu sehat-sehat ya. Insya Allah, kamu akan keluar dengan selamat. Kamu harus jadi anak yang shaleh/shalihah ya nak, banggain Umi sama Abi nantinya," ucapnya haru.
Aldian tersenyum, "Iya Umi," ucapnya lalu mendekati Airin.
Airin menoleh, "Abang, sejak kapan Abang pulang?"
"Sejak tadi, saat kamu mulai bicara sendiri," ucapnya.
"Kenapa tidak memberi salam? Aku kan jadi malu bang," ujarnya tersenyum.
Aldian tersenyum lepas, "Kenapa harus malu? Aku kan suami kamu sayang."
"Hehe iya sih," jawab Airin tertawa pelan.
Seketika, Airin berubah menjadi sendu. Entah apa yang ia pikirkan, Aldian pun tidak tahu.
"Apa ada masalah?" tanya Aldian mulai cemas.
Airin menggeleng.
"Lalu, kenapa bersedih?"
"Bang, aku menyayangimu dan anak kita, aku takut kalau dia kenapa-napa, aku juga takut kalau nanti aku tidak bisa melahirkan nya dengan baik, aku sangat menyayangi kalian Bang. Aku tidak bisa hidup tanpa kalian," ucap Airin.
"Jangan berbicara seperti itu sayang, tidak baik. Yakin saja sama Allah, Allah akan memberikan jalan yang terbaik untuk kita. Insya Allah, pasti anak kita akan lahir dengan selamat," ucap Aldian.
Airin mengangguk dan diam kembali. Ia benar-benar hawatir. Ia takut kehilangan anaknya, dan ia juga takut kehilangan suaminya. Airin sangat sayang dan menanti buah hati nya dan Aldian, ia berharap anaknya akan lahir dengan selamat.
"Jangan terlalu difikirkan sayang, nanti kamu sakit. Sekarang tidur ya, kamu harus istirahat yang cukup," ujar Aldian.9
"Iya Bang," balas Airin.
Airin pun tidur, Aldian mencium hangat keningnya.
Bersambung ...
Terimaksih telah membaca cerita bersambung dan juga telah berkunjung ke blog ceritaupdate jangan lupa kirim komentantar kalian ya makasih
Oleh: Depita Sari
Terjemahan
5 months later.
Today, Airin and Aldian went to the hospital to check Airin's womb, which was 3 months old. It is the greatest gift for them, to be able to welcome the arrival of a baby in their lives. Since Airin was pregnant, Aldian was very worried and asked his wife not to do this and that too much. However, Airin definitely refused. She does not want to lose her obligation as a wife to her husband. According to him, Aldian is too much, to the point that even cleaning the house is not given.
But everything Aldian did was for Airin's good.
After returning from the hospital, Airin and Aldian stopped by Alfamart to buy ice cream.
"Be careful, dear," said Aldian when Airin got out of the car.
"Are you coming with me?" asked Airin.
"Come with me dear, my brother will leave you alone, you can't," he said attentively. Aldian went down to Airin.
Airin smiled happily, she took her husband's hand. They went inside.
Airin is cool to choose various kinds of ice cream.
"Just take 2, you can't take too much, you remember what the doctor said?" Aldian asked.
Airin pouted, "Well, it's okay sometimes, right? Take 5, please... please," she said with sparkling eyes.
Aldian couldn't bear it, finally he said yes.
"But not this time," said Aldian.
"Yes, thank you, muach," she said kissing the back of her husband's hand.
After they finished they went home, it was getting late.
Arriving home, Aldian was very hungry. But unfortunately, there was no food at home, and Airin had a headache at that time.
"You just rest in your room, okay, or... we go back to the hospital again?"
"No need Bang, it's a normal headache," he said.
Aldi nodded.
"Eh but, Brother, I want to eat, so let Airin cook first," said Airin, going to the kitchen but her body staggered, Aldian immediately caught him.
"That's right dear. It's okay, let me cook," said Aldian worriedly.
"But Brother can't cook," Airin muttered.
"Yeah, yeah," he thought.
"No, you can do it," said Aldian, so that Airin would listen to him.
"Hmm, fine," he mumbled.
Aldian also carried his wife into the room. After that, he rushed to the kitchen.
"What am I cooking? Hm, just an omelette," he thought.
Aldian began to prepare the ingredients, he looked on google how to make the eggs. After finishing preparing the ingredients, Aldian then mixed everything together. However, without him knowing, he didn't mix the spices at all. Naturally, Aldian has never cooked once, this is his first time.
Several minutes passed. The eggs are ready to be served.
"Easy too," he thought smiling.
"Airin must like it," he thought confidently. He rushed to the room, carrying a plate of rice and eggs. He thought, eating a plate together is more romantic.
"Honey," said Aldian happily.
Airin smiled, "Masha Allah, it turns out that Brother can cook too. This must be delicious, it smells good, and judging from the shape, it is very attractive."
"Let's eat, but it's a shame to try it first," said Aldian.
Airin nodded and started to eat 1 mouthful.
"How come it's tasteless? It's definitely not salted," Airin thought, wanting to laugh. However, Airin didn't want to be honest with her husband, she didn't want to disappoint Aldian, it could be seen on her face that she was very happy.
"How is it dear, is it delicious or not? This is my first time cooking," said Aldian.
"It's delicious, and I like it. It seems that Brother can't eat this, Dede wants to eat alone," Airin lied so that Aldian wouldn't eat it.
Aldian stroked Airin's stomach, "Well, Abi's son doesn't want to share, right? Even though Abi is hungry, but it's okay for you, dear, muach," he said while kissing Airin's stomach.
Airin gently stroked her husband's head, "Be patient, Abi hihi."
Airin returned to continue eating. Let it taste bland, but it feels delicious after seeing her husband's face. Only half of the rice was finished, Airin suddenly choked, Aldian immediately gave her a drink. And it became an opportunity for Aldian to taste his cooking.
Airin wanted to stop, but she was drinking, it was difficult for her to speak.
"Why bargain?" asked Aldian who had eaten it.
Airin smiled, "It's not fresh, it's delicious, Bro."
"It's delicious, honey, it's clearly tasteless, don't eat it anymore," said Aldian, taking the plate from Airin.
"But I like it, and I want to finish it," he insisted.
"Honey, you're doing all of this for me right? So please don't eat it again, okay, we'll make a new one, what's wrong with you later," he asked.
Airin laughed, "This food is just tasteless, isn't it poison or anything, can you make something wrong?"
"Let it be, don't eat it again," he forced, Airin agreed, she didn't want to argue with her husband's words.
"Yes, you rest, okay?" Aldian ordered.
Airin nodded, she took a break.
Tonight, after the evening prayer, Airin sat by the window. He stroked his stomach, without realizing it, Aldian was behind him after returning from the mosque.
"Son, you are in good health. God willing, you will come out safely. You must be a pious child, son, be proud of Umi and Abi later," he said sadly.
Aldian smiled, "Yes Umi," he said then approached Airin.
Airin turned her head, "Brother, since when did you come home?"
"Since earlier, when you started talking to yourself," he said.
"Why don't you say hello? I'm so embarrassed," he said smiling.
Aldian smiled loosely, "Why should I be ashamed? I'm your husband, dear."
"Hehe, yes," Airin replied, laughing softly.
Instantly, Airin turned sad. I don't know what he was thinking, Aldian didn't know either.
"Is there any problem?" asked Aldian starting to get worried.
Airin shook her head.
"Then why are you sad?"
"Bang, I love you and our child, I am afraid that he will be okay, I am also afraid that later I will not be able to give birth to him properly, I really love you Bang. I can't live without you," said Airin.
"Don't talk like that dear, it's not good. Just believe in Allah, Allah will provide the best way for us. Insha Allah, our child will be born safely," said Aldian.
Airin nodded and fell silent again. He was really worried. She was afraid of losing her child, and she was also afraid of losing her husband. Airin is very affectionate and waiting for her and Aldian's baby, she hopes her child will be born safely.
"Don't think about it too much, honey, you'll get sick. Now go to sleep, you have to get enough rest," said Aldian. 9
"Yes, Bang," replied Airin.
Airin was sleeping, Aldian kissed her forehead warmly.
Continued ...
Thank you for reading the serialized story and also for visiting theblog, storyupdate don't forget to send yourthank you
comments,By: Depita Sari
Post a Comment for "Cerbung: Lelaki Idaman (Bag 18)"