Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Cerbung: Lelaki Idaman (Bag 19)

  "Airin, maunya perempuan Bang ...." celoteh Airin manja.

"Tidak bisa, anak kita pasti laki-laki," ujar Aldian tersenyum, ia sangat suka menjahili istrinya.

"Ya Allah, perempuan ya," ucap Airin menengadah.

"Airin sudah bilang sama Allah, Abang bisa apa? Haha," gumamnya.

"Laki-laki, ya tetap laki-laki," candanya mencubit hidung Airin.

"Perempuan, perempuan, hoho perempuan ...." Airin bernyanyi riang.

Aldian mengelus kepala Airin, "Iya sayang. Hm, akan tetapi, jika anak kita perempuan ataupun laki-laki, kita harus menerima dan bersyukur ya," ucap Aldian serius.

Airin tersenyum simpul, "Iya Bang, apapun yang Allah beri, Airin akan berterimakasih dan bersyukur kepada Allah SWT, dan tadi Airin hanya bercanda," ujarnya.

Aldian mengangguk senyum.

"Eh Bang, Abang rasa deh, dedenya nendang-nendang," ujar Airin tertawa, sembari menempelkan tangan Aldian di perutnya.

"Eh iya ya, aktif sekali, pasti nanti kamu kewalahan ngejar-ngejar dia pas main," ujar Aldian tak kalah senangnya.

"Hehe, tak apa. Airin akan menemaninya kemanapun dia pergi," gumam Airin, ia sangat menanti kelahiran anaknya.

"Dan aku, juga akan menemani kalian," ucapnya tersenyum.

"Abang kan kerja, jadi nggak bisa," ledek Airin.

Seketika senyumnya buyar.

"Ya sudah, aku akan melihat kalian dari kejauhan," ucapnya yang datar, semakin menambah ketampanannya.

"Uu ... Abi ngambek ya? Tenang, Umi dan Dede selalu ada untuk Abi kok," goda Airin.

"Tidak, jika kalian ingin main berdua tidak masalah." 

Karena gemas dengan suaminya, Airin memeluk Aldian. 

Airin bersedekap diatas dada Aldian.

"Kita akan selalu bersama, apa pun kondisinya," celetuk Airin tiba-tiba.

Aldian menatap istrinya dalam, tanpa mengeluarkan satu patah  katapun. 

Airin bingung, "Kenapa Bang?"

"Tidak ada apa-apa, aku sangat menyayangimu dan anak kita," ujar Aldian memeluk erat Airin.

Hari ini, Airin bersiap-siap dengan buru-buru, ia telah terlambat 10 menit, dan sekarang tepat pukul 08.00 pagi. Aldian sengaja tidak membangunkan Airin yang terlelap saat itu, ia pikir Airin tidak kuliah hari ini.

"Ayo Bang, berangkat!" ujar Airin cepat.

Aldian, yang sudah bersiap bergegas menyiapkan mobil. Airin pun segera naik dan mereka berangkat. Ditengah perjalanan, Airin meminta pada Aldian untuk menambah kelajuan menyetirnya.

"Tidak bisa sayang, kamu lagi hamil, kalau terjadi apa-apa bagaimana?" ujar Aldian menolak. 

Terlihat diwajahnya, ia sangat khawatir.

"Tapi, Airin sudah terlambat 15 menit Bang, Airin harus persentasi hari ini," ujar Airin.

"Jika cepat-cepat pun, sudah pasti terlambat kan? Jadi tidak usah buru-buru lagi," ujar Aldian terus menolak.

Airin, sedikit marah pada Aldian. Disatu sisi dia takut akan kenapa-napa, tapi disatu sisi dia harus persentasi, dan sekarang benar-benar terlambat, sudah pasti akan mengurangi nilainya.

"Bang ... aku mohon, laju sedikit ya," ujarnya keras kepala, dengan mata memelas.

"Ya sudah, pegangan!" 

Aldian, tak kuasa melihat istrinya cemberut memelas seperti itu, ia tidak tega.

10 menit berlalu, dengan kelajuan melebihi rata-rata. Susana hening diantara mereka, sangat fokus dan tenang. Angin silih berganti, menemani hati mereka yang sendu. Airin sangat sibuk melihat jam ditangannya. Tidak ada tanda-tanda kemacetan. Orang-orang berlalu lalang, sangat ramai dan sedikit mengusik telinga, dan tiba-tiba ada seekor kucing yang melintas.

Brak! 

Sebuah kecelakaan telah terjadi, sebuah mobil menabrak pohon ditepi jalan, orang-orang mulai berkumpul.

"Astaghfirullah, kasihan sekali mereka, ayo cepat bantu!"

"Ya Allah, perempuannya sedang hamil,"

"Tolong! Cepat bantu mereka Pak!"

"Mereka masih hidup, ayo bantu ke rumah sakit,"

Teriakan orang-orang saling bersahutan, meminta bantuan dan menolong mereka yang kecelakaan. Siapa mereka? Tidak disangka, ternyata yang kecelakaan adalah Airin dan Aldian.

Bersambung ...

Terimaksih telah membaca cerita bersambung dan juga telah berkunjung ke blog ceritaupdate jangan lupa kirim komentantar kalian ya makasih

Oleh: Depita Sari


Terjemahan bahasa inggris

 "Airin, you want a girl, Bang...." Airin chirped spoiledly.

"You can't, our child must be a boy," said Aldian smiling, he really likes to tease his wife.


"Oh God, it's a woman," said Airin, looking up.

"Airin already told God, what can you do? Haha," he muttered.

"Men, yes they are still men," he joked, pinching Airin's nose.

"Women, girls, hoho girls...." Airin sang cheerfully.

Aldian stroked Airin's head, "Yes dear. Hm, however, if our child is a girl or a boy, we must accept and be grateful," said Aldian seriously.

Airin smiled, "Yes, Bro, whatever God gives, Airin will be grateful and grateful to Allah SWT, and Airin was just joking," he said.

Aldi nodded with a smile.

"Eh, Bro, I think, Dedenya is kicking," said Airin laughing, while placing Aldian's hand on his stomach.

"Eh, yes, very active, for sure later you will be overwhelmed by chasing him when he plays," said Aldian no less happy.

"Hehe, it's okay. Airin will accompany him wherever he goes," Airin muttered, she was really looking forward to the birth of her child.

"And I, too, will accompany you," he smiled.

"My brother works, so you can't," Airin teased.

Instantly his smile faded.

"Yes, I will see you from a distance," he said flatly, adding to his handsomeness.

"Uu... Abi is cranky huh? Don't worry, Umi and Dede are always there for Abi," Airin teased.

"No, if you two want to play together it's fine." 

Annoyed with her husband, Airin hugged Aldian. 

Airin cradled on Aldian's chest.

"We will always be together, no matter the conditions," said Airin suddenly.

Aldian looked deeply at his wife, without uttering a single word. 

Airin was confused, "Why Bang?"

"It's okay, I really love you and our child," said Aldian, hugging Airin tightly.

Today, Airin got ready in a hurry, she was already 10 minutes late, and it was now exactly 08.00 am. Aldian deliberately didn't wake Airin who was sleeping at that time, he thought Airin didn't go to college today.

"Come on Bang, go!" said Airin quickly.

Aldian, who was already prepared, rushed to prepare the car. Airin immediately went up and they left. In the middle of the trip, Airin asked Aldian to increase his driving speed.

"Can't honey, you're pregnant, what if something happens?" said Aldian refused. 

The look on his face, he was very worried.

"But, Airin is already 15 minutes late, Bang, Airin has to give a presentation today," said Airin.

"Even if you hurry, it's definitely too late, right? So there's no need to rush anymore," said Aldian, refusing.

Airin, a little angry at Aldian. On the one hand he was afraid of nothing, but on the one hand he had to make a presentation, and now it was really too late, it would definitely reduce his value.

"Bang ... I beg you, hurry up a bit," he said stubbornly, with sad eyes.

"Yes, hold on!" 

Aldian, unable to see his wife pouting pitifully like that, he couldn't bear it.

10 minutes passed, at an exceeding average speed. Susana was silent between them, very focused and calm. The winds alternated, accompanying their sad hearts. Airin was very busy looking at her watch. No sign of congestion. People were passing by, very crowded and a little annoying, and suddenly a cat passed by.

Brack! 

An accident had occurred, a car hit a tree on the side of the road, people started to gather.

"Astaghfirullah, they are so sorry, let's hurry up and help!"

"Oh Allah, the girl is pregnant,"

"Please! Quickly help them, sir!"

"They are still alive, let's help to the hospital,"

the people shouted to each other, asking for help and helping those who were in an accident. Who are they? Unexpectedly, it turns out that the accident was Airin and Aldian.

Continued ...

Thank you for reading the serialized story and also for visiting theblog, storyupdate don't forget to send yourthank you

comments,By: Depita Sari

Post a Comment for "Cerbung: Lelaki Idaman (Bag 19)"